Senin, 14 Mei 2012

12 Barisan di Akhirat


Suatu ketika, Muadz bin Jabal Ra. menghadap Rasulullah saw dan bertanya: “Wahai Rasulullah, tolong uraikan kepadaku mengenai firman Allah SWT:
“Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris.” (QS An-Naba’:18)
Mendengar pertanyaan itu, baginda menangis dan basah pakaian dengan air mata. Lalu menjawab: “Wahai Muadz, engkau telah bertanya kepadaku, perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris.” Maka dinyatakan apakah 12 barisan tersebut…..
Barisan Pertama Digiring dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Keadaan mereka ini dijelaskan melalui satu seruan dari sisi Allah Yang Maha Pengasih: “Mereka itu adalah orang-orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya, maka demikianlah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Kedua Digiring dari kubur berbentuk babi hutan. Datanglah suara dari sisi Yang Maha Pengasih: “Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya meringan-ringankan sholat,maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Ketiga Mereka berbentuk keledai, sedangkan perut mereka penuh dengan ular dan kala jengking. “Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Keempat Digiring dari kubur dengan keadaan darah seperti air pancuran keluar dari mulut mereka. “Mereka itu adalah orang yang berdusta di dalam jual beli, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Kelima Digiring dari kubur dengan bau busuk dari bangkai. Ketika itu Allah SWT menurunkan angin sehingga bau busuk itu mengganggu ketenteraman di Padang Mahsyar. “Mereka itu adalah orang yang menyembunyikan perlakuan durhaka takut diketahui oleh manusia tetapi tidak pula merasa takut kepada Allah SWT, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Keenam Digiring dari kubur dengan keadaan kepala mereka terputus dari badan. “Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Ketujuh Digiring dari kubur tanpa mempunyai lidah tetapi dari mulut mereka mengalir keluar nanah dan darah. “Mereka itu adalah orang yang enggan memberi kesaksian di atas kebenaran, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Kedelapan Digiring dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala ke bawah dan kaki ke atas. “Mereka adalah orang yang berbuat zina, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Kesembilan Digiring dari kubur dengan berwajah hitam gelap dan bermata biru sementara dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh. “Mereka itu adalah orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang tidak sebenarnya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Kesepuluh Digiring dari kubur mereka dalam keadaan tubuh mereka penuh dengan penyakit sopak dan kusta. “Mereka adalah orang yang durhaka kepada orang tuanya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Kesebelas Digiring dari kubur mereka dengan berkeadaan buta mata-kepala, gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu jantan, bibir mereka melebar sampai ke dada dan lidah mereka terjulur memanjang sampai ke perut mereka dan keluar beraneka kotoran. “Mereka adalah orang yang minum arak, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Kedua Belas Mereka digiring dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar laksana bulan purnama. Mereka melalui titian sirat seperti kilat. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih memaklumkan: “Mereka adalah orang yang beramal saleh dan banyak berbuat baik. Mereka menjauhi perbuatan durhaka, mereka memelihara sholat lima waktu,ketika meninggal dunia keadaan mereka sudah bertaubat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah syurga, mendapat ampunan, kasih sayang dan keredhaan Allah Yang Maha Pengasih…”

Minggu, 13 Mei 2012

Rihlah Al 'abdun


ANAK KUNCI UNTUK MENGENAL ALLOH
Mengenal diri itu adalah "Anak Kunci" untuk Mengenal Alloh.   Hadis ada mengatakan :
MAN 'ARAFA NAFSAHU FAQAD 'ARAFA RABBAHU
(Siapa yang kenal kenal dirinya akan Mengenal Alloh)
Firman Alloh Taala :
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (QS. 41:53)
Tidak ada hal yang melebihi diri sendiri.  Jika anda tidak kenal diri sendiri, bagaimana anda hendak tahu hal-hal yang lain?  Yang dimaksudkan dengan Mengenal Diri itu bukanlah mengenal bentuk lahir anda, tubuh, muka, kaki, tangan dan lain-lain anggota anda itu.  karena mengenal semua hal itu tidak akan membawa kita mengenal Alloh.  Dan bukan pula mengenal perilaku dalam diri anda yaitu bila anda lapar anda makan,  bila dahaga anda minum,  bila marah anda memukul dan sebagainya.  Jika anda bermaksud demikian,  maka binatang itu sama juga dengan anda.  Yang dimaksudkan sebenarnya mengenal diri itu ialah:
Apakah yang ada dalam diri anda itu?
Dari mana anda datang? Kemana anda pergi? Apakah tujuan anda berada dalam dunia fana ini? Apakah sebenarnya bagian dan apakah sebenarnya derita?
Sebagian daripada sifat-sifat anda adalah bercorak kebinatangan.  Sebagian pula bersifat Iblis dan sebagian pula bersifat Malaikat.  Anda hendaklah tahu sifat yang mana perlu ada,  dan yang tidak perlu.   Jika anda tidak tahu,   maka tidaklah anda tahu di mana letaknya kebahagiaan anda itu.
Kerja binatang ialah makan,  tidur dan berkelahi.  Jika anda hendak jadi binatang,  buatlah itu saja.  Iblis dan syaitan itu sibuk hendak menyesatkan manusia,  pandai menipu dan berpura-pura.  Kalau anda hendak menurut mereka itu,   lakukan sebagaimana kerja-kerja mereka itu.  Malaikat sibuk dengan memikir dan memandang Keindahan Ilahi.  Mereka bebas dari sifat-sifat kebinatangan. 
Jika anda ingin bersifat dengan sifat KeMalaikatan,  maka berusahalah menuju asal anda itu agar dapat anda mengenali dan menuju pada Alloh Yang Maha Tinggi dan bebas dari belenggu hawa nafsu.  Sebaiknya hendaklah anda tahu kenapa anda dilengkapi dengan sifat-sifat kebintangan itu. 
A dakah sifat-sifat kebinatangan itu akan menaklukkan anda atau adakah anda menakluki mereka?.  Dan dalam perjalanan anda ke atas martabat yang tinggi itu,  anda akan gunakan mereka sebagai tunggangan dan sebagai senjata.
Langkah pertama untuk mengenal diri ialah mengenal bahwa anda itu terdiri dari bentuk yang zhohir,  yaitu tubuh ;  dan hal yang batin yaitu hati atau Ruh .  Yang dimaksudkan dengan "HATI" itu bukanlah daging yang terletak dalam sebelah kiri tubuh.  
Yang dimaksudkan dengan "HATI" itu ialah satu hal yang dapat menggunakan semua kekuatan,   yang lain itu hanyalah sebagai alat dan kaki tangannya saja.  Pada hakikat hati itu bukan termasuk dalam bidang Alam Nyata(Alam Ijsam) tetapi adalah termasuk dalam Alam Ghaib.  Ia datang ke Alam Nyata ini ibarat pengembara yang melawat negeri asing untuk tujuan berniaga dan akhirnya kembali akan kembali juga ke negeri asalnya.  Mengenal hal seperti inilah dan sifat-sifat itulah yang menjadi "Anak Kunci" untuk mengenal Alloh.
Sedikit ide tentang hakikat Hati atau Ruh ini bolehlah didapati dengan memejamkan mata dan melupakan segala hal yang lain kecuali diri sendiri.  Dengan cara ini,   dia akan dapat melihat tabiat atau keadaan "diri yang tidak terbatas itu". Meninjau lebih dalam tentang Ruh itu adalah dilarang oleh hukum.  Dalam Al-Quran ada diterang,
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (Bani Israil:85)
Demikianlah sepanjang yang diketahui tentang Ruh itu dan ia adalah mutiara yang tidak bisa dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan dan ia termasuk dalam "Alam Amar/perintah".  Ia bukanlah tanpa permulaan.  Ia ada permulaan dan diciptakan oleh Alloh.  Pengetahuan falsafah yang tepat mengenai Ruh ini bukanlah permulaan yang harus ada dalam perjalanan Agama,  tetapi adalah hasil dari disiplin diri dan berpegang teguh dalam jalan itu,  seperti tersebut di dalam Al-Quran :
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Al-Ankabut:69)
Untuk menjalankan perjuangan Keruhanian ini,  bagi upaya pengenalan kepada diri dan Tuhan,  maka
·         Tubuh itu bolehlah diibaratkan sebagai sebuah Kerajaan,
·         Ruh itu ibarat Raja.
·         Pelbagai indera (senses) dan daya (fakulti) itu ibarat satu pasukan tentara.
·         Aqal itu bisa diibaratkan sebagai Perdana Menteri.
·         Perasaan itu ibarat Pemungut pajak,  perasaan itu terus ingin  merampas dan merampok.
·         Marah itu ibarat Pegawai Polisi, 
·         marah sentiasa cenderung kepada kekasaran dan kekerasan.
Perasaan dan marah  ini perlu ditundukkan di bawah perintah Raja.  Bukan dibunuh atau dimusnahkan karena mereka ada tugas yang perlu mereka jalankan, tetapi jika perasaan dan marah menguasai Aqal,  maka tentulah Ruh akan hancur.
Ruh yang membiarkan kekuatan bawah menguasai kekuatan atas adalah ibarat orang orang yang menyerahkan malaikat kepada kekuasaan Anjing atau menyerahkan seorang Muslim ke tangan orang Kafir yang zalim.  Orang yang menumbuh dan memelihara sifat-sifat iblis atau binatang atau Malaikat akan menghasilkan ciri-ciri atau watak yang sepadan dengannya yaitu iblis atau binatang atau Malaikat itu.  Dan semua sifat-sifat atau ciri-ciri ini akan nampak dengan bentuk-bentuk yang jelas di Hari Pengadilan.
·         Orang yang menurut hawa nafsu nampak seperti babi,
·         Orang yang garang dan ganas seperti anjing dan serigala,
·         Orang yang suci seperti Malaikat.
Tujuan disiplin akhlak (moral) ialah untuk membersihkan Hati dari karat-karat hawa nafsu dan amarah,  sehingga ia jadi seperti cermin yang bersih yang akan memantulkan Cahaya Alloh Subhanahuwa Taala.
Mungkin ada orang bertanya,
"Jika seorang itu telah dijadikan dengan mempunyai sifat-sifat binatang,   Iblis dan juga Malaikat,  bagaimanakah kita hendak tahu yang sifat-sifat Malaikat itu adalah sifatnya yang hakiki dan yang lain-lain itu hanya sementara dan bukan sengaja?"
Jawabannya ialah mutiara atau inti sesuatu makhluk itu ialah dalam sifat-sifat yang paling tinggi yang ada padanya dan khusus baginya.  Misalnya keledai dan kuda adalah dua jenis binatang pembawa barang-barang,  tetapi kuda itu dianggap lebih tinggi darjatnya dari keledai karena kuda itu digunakan untuk peperangan.  Jika ia tidak boleh digunakan dalam peperangan,  maka turunlah ke bawah derajatnya kepada derajat binatang pembawa barang-barang. saja.
Begitu juga dengan manusia;  daya yang paling tinggi padanya ialah ia bisa berfikir yaitu Aqal.  Dengan pikiran itu dia bisa memikirkan hal-hal Ketuhanan.  Jika daya berfikir ini yang meliputi dirinya,  maka bila ia mati (bercerai nyawa dari tubuh) ,  ia akan meninggalkan di belakang semua kecenderungan pada hawa nafsu dan marah,  dan layak duduk bersama dengan Malaikat.   Jika berkenaan dengan sifat-sifat Kebinatangan,  maka manusia itu lebih rendah tarafnya dari binatang,  tetapi Aqal menjadikan manusia itu lebih tinggi tarafnya,   karena Al-Quran ada menerangkan bahwa,
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Luqman:20)
Jika sifat-sifat yang rendah itu menguasai manusia,  maka setelah mati,  ia akan memandang terhadap keduniaan dan merindukan  keindahan di dunia saja.
Ruh manusia yang berakal itu penuh dengan kekuasaan dan pengetahuan yang sangat menakjubkan.
Dengan Ruh Yang Berakal itu manusia dapat menguasai segala cabang ilmu dan Sains.
Dapat mengembara dari bumi ke langit dan balik semula ke bumi dalam sekejap mata.
Dapat memetakan langit dan mengukur jarak antara bintang-bintang.
Dengan Ruh itu juga manusia dapat menangkap ikan ikan dari laut dan burung-burung dari udara.
Menundukkan binatang-binatang untuk tunduk kepadanya seperti gajah,  unta dan kuda. 
Lima indera (pancaindera) manusia itu adalah ibarat lima buah pintu terbuka menghadap ke Alam Nyata (Alam Syahadah) ini. 
Lebih ajaib dari itu lagi ialah  Hati.  Hatinya itu adalah sebuah pintu yang terbuka menghadap ke Alam Arwah (Ruh-ruh) yang ghaib.  
Dalam keadaan tidur,  apabila pintu-pintu dunia tertutup,  pintu Hati ini terbuka dan manusia menerima berita atau kesan-kesan dari Alam Ghaib dan kadang-kadang membayangkan hal-hal yang akan datang.  Maka hatinya adalah ibarat cermin yang memantulkan (bayangan) apa yang tergambar di Luh Mahfuz.  Tetapi meskipun dalam tidur,  pikiran tentang hal-hal keduniaan akan menggelapkan cermin ini.  maka gambaran yang diterimanya tidaklah terang.  Setelah lepasnya nyawa dengan tubuh (mati),  Pikiran-pikiran tersebut hilang sirna dan segala sesuatu terlihatlah dalam keadaan yang sebenarnya.
Firman Alloh dalam Al-Quran :
Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. (Qaaf:22).

Terjemahan Kitab Kimyatusy- Sya'adah - KIMIA KEBAHAGIAAN - Karya : Imam Al-Ghazali

Selasa, 21 April 2009

Betawi


  Ada suku yang sangat unik, metropolis, mengenal budaya kota jauh
  lebih dulu ketimbang New York yang urban, suku itu adalah suku
  Betawi, bagi kita yang tinggal di Jakarta suku betawi sesungguhnya
  tidak asing bahkan menjadi bagian budaya dari orang-orang yang
  lahir dan besar di Jakarta. Betawi bagi sementara orang merupakan
  hal yang identik dengan Jakarta. Namun sejak pembangunan besar-
  besaran kota Jakarta yang dimulai sejak terselenggaranya Asian Games
  1962 dan Ganefo, juga runtuhnya pemerintahan Sukarno yang menaikkan
  Suharto di tahun 1967 berakibat banyak sekali terhadap suku asli
  Betawi. Faktor lokasi-lah yang menyebabkan suku betawi menjadi
  semakin berjarak dengan Jakarta.
 
  Asal muasal nama Betawi bukanlah nama yang sesungguhnya di berikan
  kepada suku ini, nama Betawi merupakan turunan kata/ penyesuaian
  lidah dari Batavia. Nama Batavia-pun ada di Negara Bagian New
  York. Bahkan kota Batavia pernah menjadi role model bagi Belanda
  untuk membangun New Amsterdam sebuah kota di pinggir sungai Hudson,
  setelah ditaklukkan Inggris kota itu berubah nama menjadi New York.
 
  Portugis yang mengincar pelabuhan-pelabuhan dagang Banten di tahun
  1520-an, bekerja sama dengan kekuasaan Pajajaran-Hindu untuk
  membendung gerakan politik Banten-Islam. Namun pada tahun 1590,
  Banten mengirim seorang panglima perang bernama fatahillah yang baru
  saja datang dari Malaka, Fatahillah bersama para jawara dari Banten
  dan dibantu dengan pasukan dari Cirebon berhasil mengusir Portugis
  dan membangun benteng pertahanan di sekitar pantai Sunda Kelapa,
  sejak saat itu oleh Fatahilllah pantai Sunda Kelapa dijadikan
  pelabuhan dagang, namun keramaiannya tetap kalah dengan pelabuhan
  Banten.
 
  Ketika pelabuhan sunda kelapa sudah ramai, datanglah armada dagang
  Belanda dan membangun loji-loji dagang di sekitar Sunda Kelapa, pada
  awalnya kedatangan Belanda ini disukai oleh Pangeran Jayawikarta
  penguasa Sunda Kelapa dan menamakan wilayah kekuasaannya sebagai
  Jayakarta, tetapi atas desakan dari Banten yang pada waktu itu sudah
  tidak menyukai kehadiran Belanda akibat politik campur tangan di
  Kesultanan Banten, Pangeran Jayawikarta di paksa untuk melawan
  Belanda. Pada saat itu pemimpin dagang dan bersenjata Belanda
  bernama Jan Pieter Zoen Coen yang oleh orang-orang Betawi di kenal
  sebagai Murjangkung, nah JP Zoen Coen melakukan tindakan penyerangan
  ke arah benteng-benteng di tepi pelabuhan Sunda Kelapa, pada awalnya
  Pangeran Jayawikarta mampu bertahan dan berharap ada bantuan dari
  Banten dan Cirebon, namun Belanda dengan cerdik melakukan
  pengepungan dengan memblokir jalan-jalan yang kemungkinan di lalui
  pasukan bala bantuan. Pada tahun 1614 Pangeran Jayawikarta
  memutuskan untuk meloloskan diri dari pengepungan yang berbulan-
  bulan lamanya. Ia bersama lima ratus orang pasukannya menyingkir ke
  daerah rawa-rawa yang kini dikenal sebagai Sunter, Pangeran-pun
  mendirikan pusat-pusat perlawanan gerilya. Pada awal tahun 1618,
  pasukan Banten berhasil menyusup ke Jayakarta dari arah Bogor, dan
  mereka membangun markasnya di sekitar hutan Jati yang sangat lebat
  (kini bernama Jatinegara). Pangeran Jayawikarta-pun bergabung dengan
  pasukan Banten dan menyusun serangan, namun JP Zoen Coen memutuskan
  untuk menggempur habis-habisan pasukan Banten-Jayakarta, sebelum
  datangnya pasukan yang jauh lebih besar Mataram-Sultan Agung.
  Intelijen JP Zoen Coen mendengar bahwa pasukan Mataram akan
  melakukan penyerbuan-penyerbuan ke wilayah pesisir dan pada saat itu
  sedang bertarung di wilayah priangan untuk menaklukkan bekas wilayah
  Pajajaran-Hindu yang dikuasai raja-raja kecil Islam. Menurut hitung-
  hitungan JP Zoen Coen, lambat tapi pasti Mataram akan menyerang
  Jayakarta untuk membangun pelabuhan dagangnya yang dekat dengan
  pelabuhan Malaka. Untuk itu dia membereskan separatis Betawi di
  tanah-tanah yang diakui sebagai hak VOC.
 
  Hitungan JP Zoen Coen ternyata sangat tepat, ia berkonsentrasi
  menghabisi pasukan Banten-Jayakarta untuk itu ia mengambil ratusan
  tentara bayaran dari Jerman dan beberapa budak yang didatangkan dari
  Bali, Bugis dan Ambon untuk menyerbu markas Pangeran Jayakarta. Pada
  tahun 1620, markas pangeran jayakarta diserbu oleh JP Zoen Coen dan
  sejarah membuktikan Pangeran tu mengalami kekalahan, Pada saat
  pasukan Belanda mengepung masjid yang digunakan Pangeran untuk
  berlindung, Pangeran masuk ke dalam sumur yang berada di dalam
  masjid, dan Belanda mengira Pangeran sudah mati di dalam sumur itu,
  Masjid itu kini bernama Masjid Salafiyah yang berdiri di wilayah
  Jatinegara.
 
  Setelah beres dengan perlawanan dari unsur Banten, Zoen Coen
  menghadapi pasukan Mataram yang berada dibawah pimpinan Sura Agul-
  Agul dan beberapa senopati perang lainnya yang dibantu orang-orang
  Priangan. Namun taktik penghancuran logistik terhadap sawah-sawah
  yang menjadi sumber makanan pasukan Mataram dan diracunnya sungai
  Ciliwung menjadi kunci kemenangan VOC.
 
  Kota Jayakarta-pun diganti nama menjadi Batavia oleh Zoen Coen nama
  ini diambil dari kata Bataafs, sebuah dinasti yang menguasai Belanda
  dan Jerman Utara.Dan orang-orang asli yang menempati wilayah Batavia
  disebut juga Betawi Banyak orang yang mengira asal-usul suku
  asli Batavia adalah budak-budak Zoen Coen, namun perkiraan ini
  banyak salahnya daripada betulnya, suku Betawi merupakan suku yang
  memiliki sifat uniknya sendiri, mereka sangat apolitis, dan
  menghindar dari struktur kekuasaan, walaupun ada juga orang Betawi
  yang `keningrat-ningratan dengan menggunakan gelar Raden, Raden
  betawi beda dengan Raden Sunda atau Raden Jawa yang hanya terdiri
  huruf `R', penulisan gelar Raden Betawi ditulis `Rd' misalnya : Rd.
  Mochtar, aktor jaman baheula. Orang Betawi sendiri mungkin berasal
  dari Melayu atau orang Jawa yang tinggal di pesisir namun menolak
  bagian dari suku pedalaman, ini sama saja dengan kaum Melayu di
  Kalimantan yang merasa bukan bagian dari Dayak, atau Melayu di
  Sumatera Utara yang menihilkan suku Batak. Sedari awal kita sudah
  lihat pemegang-pemegang kekuasaan di Sunda kelapa atau batavia
  adalah orang-orang pendatang seperti : Pajajaran-Hindu, Banten,
  Portugis dan Belanda. Saking sering konflik dengan Pajajaran Bogor,
  orang Betawi sampai sekarang kalau mengumpat berkata "Dasar
  Pejajaran!"
 
  Orang-orang asli Betawi seakan-akan tidak peduli siapa pemegang
  kekuasaannya.Itulah yang dapat menjelaskan mengapa suku betawi
  jarang sekali menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan
  kotanya sendiri, jabatan yang paling disenangi orang Betawi adalah
  jabatan-jabatan yang berhubungan dengan agama, makanya banyak sekali
  dari orang-orang Betawi yang terdidik bekerja di Departemen Agama.
 
  Untuk menjawab mengapa Betawi sangat berjarak dengan kekuasaan,
  mungkin jawaban yang paling tepat adalah orientasi budaya. Budaya
  betawi sangat unik dibanding budaya-budaya urban di kota-kota besar
  dunia pada jamannya seperti Huan Long (Vietnam) atau Kyoto (Jepang).
  Biasanya budaya urban mendorong kegiatan niaga kepada penduduk
  aslinya, namun untuk kasus Betawi mereka tidak menyukai dunia
  dagang, hidup mereka di orientasikan pada agama Islam. Untuk
  menjelaskan cara hidup Betawi, cara pandang Islam merupakan jawaban
  tepat. Bagi orang-orang Betawi kehidupan dunia tidak memiliki arti
  apa-apa, cita-cita terbesar orang Betawi adalah naik haji, dan
  bergelar Haji. Bagi orang Betawi pendidikan harus diorientasikan ke
  pendidikan agama bukan pendidikan cara Belanda, berbeda dengan suku-
  suku lain seperti Banten, Sunda dan Jawa yang perlahan menganggap
  pendidikan sekuler sangat penting, suku betawi sampai saat ini
  melihat pendidikan sekuler kalah penting ketimbang pendidikan agama.
  Jika kita menonton sinetron si Doel ada sebuah kesalahan fatal dari
  penilaian Rano Karno (sebagai penulis ide cerita) yang menganggap
  betawi itu sebagai orang-orang yang terbelakang secara pendidikan,
  karena disini Rano Karno melihat cara pendidikan Betawi dari kaca
  mata orang yang dididik dan dibesarkan dalam pendidikan sekuler dan
  ala barat. Orang-orang Betawi sangat berpendidikan bahkan beberapa
  orang kaya Betawi (contohnya Betawi Kuningan dan Betawi Tenabang)
  menyekolahkan anaknya ke Mesir dan Irak, banyak dari mereka bermukim
  di Mekkah untuk menimba ilmu agama, ratusan madrasah-madrasah
  dibangun untuk menampung anak-anak betawi, nah disinilah letak
  perbedaan orientasi, bagi suku-suku Batak, Minang, Sunda, Jawa dan
  Bugis (suku yang paling mendominasi arus intelektual di Indonesia),
  pendidikan ala barat merupakan patokan kecerdasan dan tingkat
  intelektualitas seseorang yang diperoleh melalui kapital simbolik
  ijazah sekolah barat yang sekuler. Lain ladang lain belalang bagi
  orang Betawi keberhasilan adalah bagaimana ia menyelesaikan
  pendidikan agama dan menjalani hidup dengan irama yang ia yakini,
  berorientasi pada alam akhirat dengan mengambil pahala banyak-banyak
  sesuai apa yang mereka yakini. Perbedaan orientasi inilah yang kerap
  menimbulkan salah paham bahwa orang-orang betawi sangat tidak
  menghargai pendidikan. Mereka justru sangat menghargai dasar-dasar
  pendidikan, hanya orang Betawi-lah yang mengenal kultur `Pagi
  belajar di SD, Siang ke Ibtidaiyah'. Pandangan mereka pendidikan
  haruslah holistik bukan kompartemental yang berakibat tidak
  seimbangnya nalar dan hati.
 
  Orang Betawi terkenal senang menerima pendatang. Banyak dari
  pendatang-pendatang luar Jakarta yang modalnya buntelan menjadi
  sukses di Jakarta, waktu susah banyak ditolong orang Betawi di gang-
  gang sempit atau toleran terhadap bayaran rumah kontrakan. Rasa
  bertetangga mereka sangat tinggi, bahkan banyak ketika orang
  pendatang itu pindah ke tempat yang lebih jauh dan lebih nyaman dari
  awal dia hidup masih sering berhubungan dengan `kerabat-kerabat
  betawi-nya yang dulu pernah menolong'. Orang Betawi terkenal blak-
  blakan, kalau bicara seperti orang nyanyi. Bahasa Betawi adalah
  bahasa Melayu yang terkenal dengan akhiran huruf e. Kalau orang
  Melayu mengucapkan huruf e itu dengan mengayun lembut, orang Betawi
  membunyikannya dengan lempeng. Bahasa Betawi adalah bahasa yang
  paling berpengaruh dalam ruang pergaulan informal anak muda, kini
  seluruh radio-radio di seantero Nusantara menggunakan bahasa
  Indonesia dengan dialek Betawi sebagai bagian dari
  proses `Jakartanisasi'.
 
  Suku Betawi adalah satu-satunya suku di Jakarta yang paling awet
  menerima gempuran budaya urban, suku-suku lain seperti Jawa, Sunda
  dan Bugis mengalami kekalahan yang hebat dan mundur ke wilayah-
  wilayah pedalaman, pesisirnya dikuasai Belanda dan orang-orang timur
  asing (Vreemde Osterlingen) seperti Cina dan Arab. Berbagai macam
  pengaruh yang mencampuri keragaman budaya Betawi bahkan darah suku-
  suku Betawi tidak murni lagi sebagai sebuah ras, orang-orang Betawi
  adalah campuran dari cina, eropa dan arab. Bagi saya pribadi pernah
  membagi-bagi fisiognomi-geografi orang-orang Betawi, untuk ras yang
  di dominasi oleh ras Arab berdiam di sekitar wilayah-wilayah pusat
  dan utara kota Jakarta, orang-orang Betawi Ancol, Sunter, Tanah
  Abang, Slipi, Pekojan, dan sekitar Kampung Melayu dan Jatinegara
  merupakan betawi yang memiliki tekstur arab secara khas, mereka
  banyak yang keturunan arab. Sedangkan betawi-betawi yang berdiam di
  sekitar Kuningan, Mampang, Buncit, Pejaten, Kemang dan wilayah-
  wilayah tengah banyak yang berkulit putih bersih dan bermata sipit,
  mereka ini banyak keturunan dari ulama-ulama besar Islam keturunan
  Cina, sedangkan untuk wilayah Depok, ada sebuah keunikan, suku-suku
  betawi ini di bagi dua kelompok besar yaitu : keturunan Belanda dan
  keturunan sisa-sisa lasykar Mataram yang tidak berani pulang ke
  asalnya karena takut dihukum. Untuk yang keturunan Belanda terlihat
  sekali tingginya, bila anda datang ke wilayah-wilayah Jagakarsa,
  Ciganjur, Depok lama maka sesekali terlihat wajah-wajah indo yang
  tinggi badannya sekitar 180-an cm yang bicaranya `ngapak-ngapak',
  namun jenis ras indo ini tidak banyak, keturunan Mataram-lah yang
  banyak, mereka sendiri tidak mengetahui atau tidak mau mengetahui
  keturunan lasykar-lasykar Mataram, tapi bila dilihat dari namanya
  sungguh nama-nama itu adalah nama yang berasal dari Jawa; seperti
  Wiro, Tole, Bagor, Diro, Pulung dll yang bukan merupakan ciri khas
  nama Sunda atau Banten yang lebih banyak terpengaruh nama-nama
  Islam. Karena merupakan suku melting pot yang terus menerus berbaur
  bisa dikatakan wanita Betawi itu cantik-cantik.
 
  Ada juga betawi-betawi yang menyimpang dari arus besar komunitas,
  dan membentuk subkultur yang pertama, adalah keturunan Betawi-
  Portugis yang berdiam di sekitar wilayah Tugu dekat Tanjung Priok,
  agama mereka bukan Islam tetapi Kristen Protestan, pada awalnya
  mereka beragama Katolik tapi atas paksaan VOC yang anti Katolik dan
  penganut protestan Calvinis, mereka dipaksa masuk Protestan oleh
  Belanda dan sampai sekarang agama mereka protestan, mereka memiliki
  budaya sendiri seperti lempar-lempar bedak pada hari natal atau yang
  paling populer adalah musik keroncong, di tahun 1930-an orang-orang
  Tugu banyak menjadi buaya-buaya keroncong terkenal. Yang kedua
  subkultur Betawi "Belanda-Depok".
 
  Dulu disekitar wilayah Depok berdiri sebuah perkebunan besar yang
  dibangun oleh Cornelis Chastelein, pejabat penting VOC, wilayah ini
  mencakup Depok, Cinere dan sebagian kecil wilayah Jakarta Selatan.
  Luasanya sekitar 1285 hektar (hitungannya sekarang mungkin mencakupi
  6 kecamatan). Pada tahun 1696 menjelang Chastelein pensiun ia
  membeli tanah tersebut dan tahun 1714 tanah tersebut di wariskan
  oleh budak-budak yang dimerdekakannya, budak-budak itu diperkirakan
  ada 12 orang, nama-nama mereka adalah Leander, Loen, Jacob, Laurens,
  Joseph, Jonathans, Bacas, Soedira, Isakh, dan Zadokh. Keturunan-
  keturunan mereka banyak menguasai tanah-tanah di Depok, agama mereka
  kebanyakan Kristen Protestan, untuk nama belakang Zadokh saat ini
  tidak ditemukan lagi, kemungkinan karena beberapa generasi setelah
  Zadokh tidak ada lagi keturunan pria.
 # diambil dari blog tetangga #

Senin, 20 April 2009

Focus dan Sukses

suksessssss.......................